Selasa, 05 November 2019

Mimpi itu Hidup


Aku pernah merasakan senang yang amat senang, aku dan dia pergi dari kepenatan kota menuju ruang hampa dimana tidak ada suara bising kendaraan, tidak kudengar suara-suara parau dari manusia dan teknologi terbaru saat itu, tidak kurasakan lagi sesak yang amat sakit dalam dada ketika ku menghirup udara, untuk sesaat aku merasa teristimewakan olehnya, karena hanya aku yang ada di sisinya, karna hanya lenganku yang berada dalam genggamnya, karena hanya aku yang ada saat itu.
Kita berjalan ditemani merdunya kicau burung yang menuntun ke lembah surgawi, menghirup udara segar, yang membuat ronga dada mengembang bebas. Kulihat di lembah itu ada secerca kehidupan yang penuh cinta, sekumpulan hewan liar hidup rukun dengan mata rantai yang tercukupi, dalam benak aku berfikir, “apakah ini yang sesungguhnya hidup ?” mereka hidup bersama dalam luasnya savana.
Hewan-hewan hidup berkoloni dengan saling menjaga dan melindungi, sepasang kijang memadu kisah di atas batu besar dengan berteduhkan pohon pinus yang sedang berbuah. Harimau betina dengan sabar menyusui tiga anak yang baru saja lahir beberapa hari lalu. Burung-burung terbang indah mencoba menyelinap masuk dalam air dan keluar dari danau sehingga membuat percikan indah yang terbias oleh cahaya.
Aku belum merasa puas dengan kondisi lembah ini, aku yakin dibumi tidak hanya ada lembah ini saja. Semakin jauh kita melangkah semakin tercium bau tanah lembab dari hutan yang rimbun, jujur aku sangat takut dengan sosok hewan melata yang sewaktu-waktu bisa merayap hinggap ke kulitku tanpa aku sadari, betapapun pakaian yang aku pakai sudah terbilang cukup menutupi seluruh tubuhku.
Kita berada di jantung bumi, tepat di tengah-tengah hutan rimbun yang menutupi sinar matahari siang ini, kulihat alroji yang menunjukan pukul satu siang namun keadaan sungguh seperti senja kemarin, senja yang menguning saat dia dan aku berdiri di ujung dunia menikmati laut, yang sebentar lagi menelan habis matahari hingga meninggalkan secerca cahaya, saat itu aku berfikir bahwa waktu ku sudah hampir habis, dan aku akan kehilangan sosok yang selama ini menemani setiap langkahku.
Ternyata saat itu tidak banyak perubahan, hanya matahari yang menghilang, tidak dengan dirinya, tidak dengan kisahnya, tidak dengan cintanya. Waktu cepat bergulir tak kusangka matahari sudah benar-benar menghilang digantikan dengan rembulan yang sudah menunggu gilirannya untuk tampil.
Semakin aku melangkah masuk kedalam hutan itu semakin gelap dan kurasakan dingin menusuk menembus ke dalam kulitku, ku eratkan genggaman, semakin erat, semakin erat, semakin ku genggam semakin dia tersadar bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, rupanya diapun mahfum atas kegelisahanku pada keadaan saat itu, pria itu mengusap lembut punggung lenganku sambil berkata “aku ada bersamamu”.
Tanpa terasa sudah hampir tiga jam kita berjalan tanpa istirahat, dari kejauhan kulihat pohon apel di atas tumpukan tanah yang cukup tinggi, sedikit ragu aku menyakinkan dia bahwa yang kulihat benar-benar pohon apel di tengah hutan lembab tanpa cahaya cukup untuk berfotosintetis, ternyata benar itu adalah pohon apel tua dengan daun rimbun buah ranum siap makan. Setelah cukup beristirahat memakan sedikit pembekalan yang kita bawa dan mengambil sedikit apel untuk persediaan selanjutnya, kita melanjutkan perjalanan dengan kondisi tubuh pulih dan cukup energi untuk berjalan puluhan kilometer kedepan.
Sepanjang perjalanan mataku tidak berhenti melihat sekitar hutan yang sangat menakjubkan biarpun hutan ini tidak mendapat cukup sinar matahari namun tumbuhan disini cukup memanjakan mata dengan warnanya yang indah, sekilas teringatku pada kutipan buku yang dulu ku baca “ siapa yang akan melihat keindahan ini di tengah belantaranya hutan ?”. ternyata dihutan ini kita tidak sendirian, kulihat sepasang anaconda sedang bergelantungan di dahan pohon sebelah barat, yang ku yakin arah kakiku melangkah adalah ke timur, namun ku yakin mereka tidak akan mengganggu perjalanan ku.
Kulihat dari kejauhan mulai ada sinar cahaya masuk ternyata kerimbunan hutan ini sudah berkurang dan lembabnya hutan berkurang. Aku yakin kalian tidak akan percaya bahwa apa yang ada di depanku  ini adalah pemandangan indah, dari jauh kulihat air terjun bertingkat dengan dua aliran yang sama derasnya ternyata ini yang selama ini di bicarakan masyarakat kota dengan “the magic of waterfall”. Airnya terasa sejuk, aku sampai lupa kapan terakhir kali aku mandi sesegar ini.
Malam ini kami tidur disini, untuk menghindari serangan dari hewan buas, kami membuat bifak seadanya dan membakar ikan hasil tangkapan kami sehabis mandi tadi. “Hotel Bintang Seribu” itu kiasan tepat untuk malam panjang ini, hanya ada suara gemericik dari air terjun dan suara hewan kecil yang mendengung.
Pagi ini ternyata dia bangun lebih awal, ku lihat dia sudah berada di dekat air terjun dengan membawa ikan tangkapannya, embun menutupi puncak air terjun sehingga air itu seolah turun dari langit, dan pria itu berjalan menembus kabut tanpa selehai benang menutupi dadanya yang kutau saat itu udara sedang mencapai batas minus derajat, karna udaranya mampu menembus tubuhku yang terbalut jaket tebal.

==,­+==
 Di puncak gunung batu dengan ketingian ± 1998mdpl terdapat kuil tua yang usianya sudah ratusan tahun, terlihat dari adanya patung dewa siwa dengan ukuran besar berada ditengah kuil dipenuhi lilin di setiap sisinya yang ku yakin belum lama ini ada seseorang yang melakukan pemujaan atau memanjatkan doa.
Aku berkeliling memutari patung dewa dengan perlahan, setiap langkah yang ku ambil tak luput bibirku berucap dan berdoa pada dewa supaya aku memiliki kisah percintaan seperti “rama sinta”. Aku yakin lilin-lilin ini tidak hidup dengan sendirinya dalam keadaan cuaca yang berangin, lalu siapa yang menyalakan lilin sebanyak ini ?, ataukan memang ada seseorang yang suda menunggu kedatangan kita disini ?.
Masih belum kutemukan jawaban atas lilin-lilin ini, pria itu datang bersama seorang lelaki tua yang secara sekilas kulihat dari kejauhan mirip dengan tokoh yang selama ini ku kagumi “Mahatma Gandhi“. Ternyata lelaki tua itu adalah pengurus kuil besar ini, dan benar saja ternyata memang dia yang menyalakan lilin itu sebagai penyambutan untuk kami. “`dia` sudah menunggu kalian dari kemarin, kenapa baru sampai ?”. whaaatttt ????????? `dia` siapa ?.
Ku perhatikan langkah kaki lelaki tua itu dengan awas, dia berpenampilan seperti biksu dengan kepala yang kemarau tanpa sehelaipun tumbuh rambut disana, memakai kain di sebagian pundak dan membiarkan pundak satunya terbuka. Membiarkan kaki kecil rapuh itu terbuka yang sewaktu-waktu bisa saja ada batu atau benda lainnya menempel disana.
Kami sampai pada ujung lorong bagian sayap kanan dari kuil ini, ku lihat ada seseorang sedang bermeditasi di tengah ruangan dengan menghadap ke sisi terluar dari kuil, pemandangan itu sangat membuatku terkesan, mata ku tak luput dari setiap inci bangunan ini dan berakhir dengan pemandangan yang luar biasa menakjubkan itu.
Di seberang tebing kuil ini kulihat air terjun yang kemarin ku lewati dengan hutan di atasnya yang penuh dengan teka teki, “ada apa disana ?”. kulihat seseorang yang tadi sedang bermeditasi terbangun dan berdiri, menyapa pria itu dan aku, dia memiliki prawakan tinggi, badan sedikit berisi, rambut terurai panjang sedikit bergelombang dan  menyembunyikan cahaya putih yang akan menjadi penerang dalam kematian kelak, penutup kepala yang terbuat dari lilitan kain bermotif corak kehidupan. Wajah yang tidak lagi muda terlihat betapa banyaknya cahaya dalam helai rambut di bawah dagu itu.
Memakai penutup tubuh dengan kain yang di tenun menggunakan tangan seorang wanita dengan kelembutan serta kesabaran dan penuh cinta, penutup tubuh bagian bawah merupakan kain putih dengan corak keberagaman yang membuktikan betapa bijaksananya seseorang yang memakainya.
 Sampai detik ini aku masih belum mengerti apa arti semua ini. Ada apa dengan kuil ini, mengapa aku bisa berakhir disini dan bertemu dengan orang-orang seperti mereka ?
Ab hinc, yang kuketahui adalah nama lelaki tua bijaksana itu. Ab hinc merupakan tetua di kuil ini, orang biasa memanggilnya dengan “bahid”. Bahid mengajak kami berkeliling melihat seluk beluk kuil ini, di setiap lorong terdapat beberapa tiang yang memiliki filosopi tertentu dengan guratan atau ukiran yang sulit ku pahami.
Kuil ini memiliki tujuh lorong, di setiap lorongnya adalah tempat berbagai agama melakukan aktivitasnya. Di lorong ujung merupakan tempat berkumpulnya semua keyakinan, mereka menyebutnya dengan “lorong eden”. Dimana semua orang berkumpul tanpa memandang siapa dia, dari keluarga apa dia, apa agama dia, apa kasta dia, apa warna kulit dia dan apa ras dia.
Aku berasal dari keluarga yang terpandang sebagai anak perempuan, dari laki-laki tua pemimpin agama dengan tuhan yang tak berwujud. Sedangkan pria yang selalu bersamaku ini adalah seorang anak dari laki-laki tua yang memegang prinsip kuat dengan ajaran tuhannya yang selalu digambarkan dengan wujud patung manusia.
Kisah asmara yang selama ini aku jalani merupakn kisah terselubung di balik angin, tiada sesiapun tau. Jawaban untuk akhir kisah ini pun belum terlihat jelas, masih berupa awan kelabu yang enggan menunjukan mentari ataupun menurunkan hujan.
Bahid bercerita bahwa tempat ini merupakan tempat pelarian bagi mereka yang ragu akan tujuan. Mereka yang segan untuk hidup tapi tidak ingin mengakhiri hidupnya. Bahid bercerita bahwa banyak orang-orang yang berhasil menemukan jati diri mereka disini, mereka yang berhasil selalu keluar dari tempat ini dan tidak pernah kembali, karena tempat ini hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang memiliki banyak pilihan hidup.
Tidak jarang juga ada orang-orang yang memilih untuk menetap dan tidak ingin kembali. Bahid selalu membuka tempat ini untuk siapapun, karna alam bawah sadar mereka yang menuntun mereka kesini.
Aku banyak belajar di tempat ini, aku belajar mengenal jati diriku melalui alam bawah sadarku. Bahid membantu ku untuk menentukan pilihan ku dan aku di hadapkan pada semua pilihan hidupku yang rumit, Bahid menuntunku berjalan dan memperlihatkan akhir dari pilihanku, sampai aku dihadapkan dengan dua pilihan besar yang sangat beresiko besar.
Tersadar dari meditasi, tubuhku sudah basah oleh keringat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahid menyudahi pelajaran hari ini, aku pergi ke sungai untuk menenangkan fikiran, kulihat air terjun itu seolah berbicara kepadaku, dia tau kalau aku sedang tidak tidak besemangat untuk membasahi tubuhku, air terjun itu menunjukan senyum indah yang berwarna dengan sumringah, seolah dia mengajakku untuk bermain dengan percikan air yang mengenai wajahku, aku yakin bahwa alam sedang coba menghiburku.
Sejenak aku terbayang dengan semua resiko atas pilihan-pilihan itu, ada apa dengan tempat ini, mengapa aku bisa melihat alam bawah sadarku secara jelas, mengapa aku selalu merasa alam sedang ingin berkomunikasi denganku, mengapa semua hewan buas di hutan itu hidup saling rukun, tempat apa ini dengan semua keberagamannya.
==+==
Hari ini Bahid memanggilku, dia ingin aku segera menentukan pilihan seperti apa yang akan kupilih dalam hidupku. Kembali pada keluargaku, menjalani hidup seperti biasa, bertemu pria lain dan memiliki masa tua yang bahagia, meskipun aku harus mendapat hukuman, sepulang dari sini akan tersiksa selama sewindu karna harus berpisah dari pria itu. Atau aku pilih pria itu, hidup bahagia dengan kehidupan baru, memulai semua dari awal dan tersiksa di masa tua dengan umur seribu tahun, tidak memiliki ingatan tentang: siapa aku, siapa keluargaku, dari mana asal ku dan mengapa aku sendirian.
  Aku mencintai pria itu, sangat mencintainya, kita berjalan bersama untuk sampai ketempat ini, kita berbeda tapi kita satu, semua orang tau kalau kisah kita lebih romantis dari romeo & Juliet, banyak hal yang sudah kita lalui bersama, susah senang, suka duka, dia yang menjagaku ketika ku sakit. Aku menjalani kisah ini sudah separuh hidupku, ini pilihyan yang sangat berat, sungguh membingungkan.
Yaaaaaaa ini hanya kisah aku. Apa pria itu diberikan pilihan sama seperti ku? atau hanya aku yang menjadikan dia bagian dari pilihanku ?. aku terbangun dan menghentikan ini, aku butuh waktu untuk berfikir.
Aku pergi ke air terjun itu lagi, aku yakin hanya alam yang mengerti aku dan alam selalu memiliki cara untuk membuatku bersemangat lagi. Yap, benar saja, alam selalu punya cara menyampaikan maksudnya. Ku lihat sekawanan beruang sedang mencari ikan di sungai itu, aku ragu untuk mendekati, bisa saja sewaktu-waktu beruang itu menerkamku dan tamat riwayatku.
Kehadiranku tidak mengganggu kegiatan mereka, mereka melihat ke arahku dengan menunjukan taring besar itu, yang kutau maksudnya adalah dia tersenyum kepadaku. Ada satu beruang yang mencuri perhatianku, tubuhnya paling besar dari yang lainnya, bulu hitam pekat di seluruh tubuhnya, dengan garis bulu kecoklatan di sekitar dada membentuk satu garis  tak putus melingkari lehernya, air yang membasahinya menunjukan semua lekuk tubuh kekar itu, yang ku yakin dia adalah pemimpin kawanan disitu.
 Dia melihat ke arahku dengan tatapan mata penuh makna, aku kurang yakin apa arti tatapan mata itu. dia menangkap ikan dan melemparnya ke kawanan yang lain. Dia membuka mulutnya perlahan seperti hendak mengeram menunjukan taring besar yang terpantul cahaya, sketika raut wajahnya berubah, beruang itu mendekatiku dengan perlahan berjalan dengan kedua kakinya dengan tegap layalnya manusia. Tanpa sadar aku menutup mata dan  kudengarkan dengan perlahan suara langkah beruang itu dalam air, kudengar bisikan seperti angin lewat “keluargamu membutuhkanmu”suara itu nan lembut dan bijaksana, kuat, mempesona sehingga badanku gemetar mendengar kalimat itu, seperti langsung terdengar oleh hati. Saatku buka mata, beruang itu sudah berlalu pergi menjauhiku.
Hari ini aku sudah siap untuk menentukan pilihan hidupku, aku datang menamui Bahid untuk memberi kabar bahwa aku siap dengan segara hal buruk dari pilihanku.
“aku pilih keluargaku”, dengan nafas yang masih tersengal akibat mengejar Bahid yang jauh di depanku. Bahid berpaling tersenyum menoleh kearahku “pilihan yang tepat cah ayu, kamu sudah menemukan jati dirimu yang sesungguhnya”
“aku siap dengan segala hal buruk yang akan terjadi, aku akan pulang dan menemui keluargaku, mereka membutuhkanku”. Bahid tersenyum lebar lalu pergi meninggalkanku.
Ketika aku sedang berkemas dalam kamar, ada seseorang mengetuk pintuku “ hey kamu yang di dalam, Bahid memanggilmu di lorong sayap kanan”. Aku keluar kamar untuk menemuinya, sepanjang perjalanan dari kamar menuju lorong sayap kanan, ku lihat seorang wanita sedang menyusui anaknya di dalam kamar, mengenakan pakaian putih dengan model seperti Negara piramida, duduk disampingnya seorang lelaki tua dengan pakaian serba kuning menutupi sebagian dadanya menyerupai biksu kuil yang pertama ku jumpai disini.
“ kamu pasti bertanya-tanya dengan apa yang kamu liat tadi, mereka merupakan suami-istri sah perkawinan silang keyakinan, disini kami percaya pencipta itu ada, kami percaya dengan apa yang ditulis manusia dalam kitab, kami yakin bahwa pencipta selalu bersama kami, disini kami hidup dengan pilihan hidup kami, baik buruknya kami percaya akan adanya surga neraka. Mereka memilih untuk tidak memilih pilihan hidup mereka dan tinggal disini”
“Lalu apa pilihan ku benar ?”
“Pilihan kalian benar, kalian akan menjalani hidup kalian dengan bahagia, kalian kembali kepada keluarga yang sangat mencintai kalian, denga tulus tanpa pamrih dan mereka menerima kembali kehadiran kalian dengan apapun kindisinya”
“Kalian ?”
“ya, kalian, pria itu sudah lebih dulu menentukan pilihannya dan pergi meninggalkan tempat ini dua hari yang lalu, dia tidak ingin bertemu dengan mu karena dia takut kamu akan kecewa dan sulit melepaskannya”
“Lalu, apa maksudmu kalau kami akan hidup bahagia ? bukankan takdir ingin menyiksa kita terlebih dahulu ?”
“itu karena dia sempat bimbang memilih antara kamu atau keluarganya, dia pernah bilang bahwa apapun yang terjadi, dia akan akan selalu mendampingimu, dia akan memilihmu dan akan meninggalkan keluarganya. Setelah pertimbangan banyak hal akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan memilih keluarganya. Kalian tidak akan tersiksa karena kalian memilih hal yang sama demi kebaikan bersama, pulanglah, ayahmu merindukan mu, ibumu menantikanmu”
“apa setelah ini aku bisa datang kemari untuk berkunjung ?”
“aku tidak yakin, semua orang disini tidak ada yang tau caranya kembali jika sudah keluar dari tempat ini”
Dini hari aku sudah keluar dari tempat ini, tidak melewati jalan yang sama, seperti saat datang. Aku berjalan mengikuti aliran sungai, masih kulihat kuil itu berdiri dengan samar, patung siwa yang terbias cahaya bulan seolah tersenyum padaku mengatakan “selamat tinggal”
Hanya hening yang ku dengar sepanjang perjalanan, sunyi, gelap sangat gelap, kulihat portal di ujung jalan yang akan membawaku kembali kepada dunia yang sesungguhnya. Alroji ku menunjukan waktu yang sama tidak berdetak, padahal aku sudah berjalan sangat lama.  Kulihat setitik cahaya yang menunjukan bahwa hutan ini akan segera berakhir, semakin ku dekati cahaya itu semakin aku percaya diri bahwa inilah hidup yang aku pilih.
Sesampainya di titik cahaya, aku berada di jalan setapak penghubung desa dengan hutan, aku masih diam merenung memikirkan apa yang terjadi sampai matahari benar-benar menyinari jalanku. Ku lihat alrojiku mulai berdetak, menunjukan waktu tepat untuk aku berangkat sekolah, tapi aku tidak pergi ke sekolah, aku pulang kerumah, karena ku yakin ibuku sedang menyiapkan sarapan untuk ayahku sebelum pergi bekerja.
Kulihat raut wajah mereka yang bahagia, tersenyum dengan penuh sejuta pesona yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama saat aku hadir di dunia ini. Ku masuk kedalam kamarku dan ku liat tubuhku masih terkulai lemas di kasur, matahari yang menembus masuk melalui celah jendela menarikku masuk dalam tubuh itu dan aku terbangun untuk memulai hidup yang lebih indah.
Sebelum pergi kesekolah, aku sempatkan mencium pipi kedua orangtuaku. Berpamitan dan menampilkan senyum terlebarku, kebali pada kegiatan rutin setiap hari aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki melewati pasar induk yang selalu ramai di datangi banyak orang, melewati taman kota yang setiap malam ramai dengan muda-mudi dan ribuan bintang buatan yang menyinari taman itu. melewati jalan kosong yang tadi pagi ku lewati, jalan penghubung desa dengan hutan.
Di depan gerbang sekolah aku lihat sosok pria itu berdiri seperti sedang menunggu seseorang, entah siapa, aku pun tidak berharap dia sedang menungguku. Dari jauh ku perhatikan raut wajah dia sedang bahagia, datang seorang perempuan berjalan setengah berlari menghapiri pria itu. mereka tertawa bersama, berpegangan tangan dan masuk ke halaman sekolah bersa. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi kepadaku, tapi aku sama sekali tidak sedih, aku merasa senang melihat itu semua.
Ketika aku sedang berdiam diri, ada sosok pria lain yang menggenggam tanganku dari belakang dan menarikku untuk berjalan bersama, genggaman dia terasa sangat tulus dan dia membawaku pergi masuk ke dalam sekolah itu.