Aku
pernah merasakan senang yang amat senang, aku dan dia pergi dari kepenatan kota
menuju ruang hampa dimana tidak ada suara bising kendaraan, tidak kudengar
suara-suara parau dari manusia dan teknologi terbaru saat itu, tidak kurasakan
lagi sesak yang amat sakit dalam dada ketika ku menghirup udara, untuk sesaat aku
merasa teristimewakan olehnya, karena hanya aku yang ada di sisinya, karna
hanya lenganku yang berada dalam genggamnya, karena hanya aku yang ada saat itu.
Kita
berjalan ditemani merdunya kicau burung yang menuntun ke lembah surgawi, menghirup
udara segar, yang membuat ronga dada mengembang bebas. Kulihat di lembah itu
ada secerca kehidupan yang penuh cinta, sekumpulan hewan liar hidup rukun
dengan mata rantai yang tercukupi, dalam benak aku berfikir, “apakah ini yang
sesungguhnya hidup ?” mereka hidup bersama dalam luasnya savana.
Hewan-hewan
hidup berkoloni dengan saling menjaga dan melindungi, sepasang kijang memadu
kisah di atas batu besar dengan berteduhkan pohon pinus yang sedang berbuah.
Harimau betina dengan sabar menyusui tiga anak yang baru saja lahir beberapa
hari lalu. Burung-burung terbang indah mencoba menyelinap masuk dalam air dan
keluar dari danau sehingga membuat percikan indah yang terbias oleh cahaya.
Aku
belum merasa puas dengan kondisi lembah ini, aku yakin dibumi tidak hanya ada
lembah ini saja. Semakin jauh kita melangkah semakin tercium bau tanah lembab
dari hutan yang rimbun, jujur aku sangat takut dengan sosok hewan melata yang
sewaktu-waktu bisa merayap hinggap ke kulitku tanpa aku sadari, betapapun
pakaian yang aku pakai sudah terbilang cukup menutupi seluruh tubuhku.
Kita
berada di jantung bumi, tepat di tengah-tengah hutan rimbun yang menutupi sinar
matahari siang ini, kulihat alroji yang menunjukan pukul satu siang namun
keadaan sungguh seperti senja kemarin, senja yang menguning saat dia dan aku
berdiri di ujung dunia menikmati laut, yang sebentar lagi menelan habis
matahari hingga meninggalkan secerca cahaya, saat itu aku berfikir bahwa waktu
ku sudah hampir habis, dan aku akan kehilangan sosok yang selama ini menemani
setiap langkahku.
Ternyata
saat itu tidak banyak perubahan, hanya matahari yang menghilang, tidak dengan
dirinya, tidak dengan kisahnya, tidak dengan cintanya. Waktu cepat bergulir tak
kusangka matahari sudah benar-benar menghilang digantikan dengan rembulan yang
sudah menunggu gilirannya untuk tampil.
Semakin
aku melangkah masuk kedalam hutan itu semakin gelap dan kurasakan dingin
menusuk menembus ke dalam kulitku, ku eratkan genggaman, semakin erat, semakin
erat, semakin ku genggam semakin dia tersadar bahwa aku sedang tidak baik-baik
saja, rupanya diapun mahfum atas kegelisahanku pada keadaan saat itu, pria itu
mengusap lembut punggung lenganku sambil berkata “aku ada bersamamu”.
Tanpa
terasa sudah hampir tiga jam kita berjalan tanpa istirahat, dari kejauhan
kulihat pohon apel di atas tumpukan tanah yang cukup tinggi, sedikit ragu aku
menyakinkan dia bahwa yang kulihat benar-benar pohon apel di tengah hutan
lembab tanpa cahaya cukup untuk berfotosintetis, ternyata benar itu adalah
pohon apel tua dengan daun rimbun buah ranum siap makan. Setelah cukup
beristirahat memakan sedikit pembekalan yang kita bawa dan mengambil sedikit
apel untuk persediaan selanjutnya, kita melanjutkan perjalanan dengan kondisi
tubuh pulih dan cukup energi untuk berjalan puluhan kilometer kedepan.
Sepanjang
perjalanan mataku tidak berhenti melihat sekitar hutan yang sangat menakjubkan
biarpun hutan ini tidak mendapat cukup sinar matahari namun tumbuhan disini
cukup memanjakan mata dengan warnanya yang indah, sekilas teringatku pada
kutipan buku yang dulu ku baca “ siapa yang akan melihat keindahan ini di
tengah belantaranya hutan ?”. ternyata dihutan ini kita tidak sendirian,
kulihat sepasang anaconda sedang bergelantungan di dahan pohon sebelah barat,
yang ku yakin arah kakiku melangkah adalah ke timur, namun ku yakin mereka tidak
akan mengganggu perjalanan ku.
Kulihat
dari kejauhan mulai ada sinar cahaya masuk ternyata kerimbunan hutan ini sudah
berkurang dan lembabnya hutan berkurang. Aku yakin kalian tidak akan percaya
bahwa apa yang ada di depanku ini adalah
pemandangan indah, dari jauh kulihat air terjun bertingkat dengan dua aliran
yang sama derasnya ternyata ini yang selama ini di bicarakan masyarakat kota
dengan “the magic of waterfall”.
Airnya terasa sejuk, aku sampai lupa kapan terakhir kali aku mandi sesegar ini.
Malam
ini kami tidur disini, untuk menghindari serangan dari hewan buas, kami membuat
bifak seadanya dan membakar ikan hasil tangkapan kami sehabis mandi tadi.
“Hotel Bintang Seribu” itu kiasan tepat untuk malam panjang ini, hanya ada
suara gemericik dari air terjun dan suara hewan kecil yang mendengung.
Pagi
ini ternyata dia bangun lebih awal, ku lihat dia sudah berada di dekat air
terjun dengan membawa ikan tangkapannya, embun menutupi puncak air terjun
sehingga air itu seolah turun dari langit, dan pria itu berjalan menembus kabut
tanpa selehai benang menutupi dadanya yang kutau saat itu udara sedang mencapai
batas minus derajat, karna udaranya mampu menembus tubuhku yang terbalut jaket
tebal.
==,+==
Di puncak gunung batu dengan ketingian ±
1998mdpl terdapat kuil tua yang usianya sudah ratusan tahun, terlihat dari
adanya patung dewa siwa dengan ukuran besar berada ditengah kuil dipenuhi lilin
di setiap sisinya yang ku yakin belum lama ini ada seseorang yang melakukan
pemujaan atau memanjatkan doa.
Aku
berkeliling memutari patung dewa dengan perlahan, setiap langkah yang ku ambil
tak luput bibirku berucap dan berdoa pada dewa supaya aku memiliki kisah
percintaan seperti “rama sinta”. Aku yakin lilin-lilin ini tidak hidup dengan
sendirinya dalam keadaan cuaca yang berangin, lalu siapa yang menyalakan lilin
sebanyak ini ?, ataukan memang ada seseorang yang suda menunggu kedatangan kita
disini ?.
Masih
belum kutemukan jawaban atas lilin-lilin ini, pria itu datang bersama seorang
lelaki tua yang secara sekilas kulihat dari kejauhan mirip dengan tokoh yang selama
ini ku kagumi “Mahatma Gandhi“. Ternyata lelaki tua itu adalah pengurus kuil
besar ini, dan benar saja ternyata memang dia yang menyalakan lilin itu sebagai
penyambutan untuk kami. “`dia` sudah menunggu kalian dari kemarin, kenapa baru
sampai ?”. whaaatttt ????????? `dia` siapa ?.
Ku
perhatikan langkah kaki lelaki tua itu dengan awas, dia berpenampilan seperti
biksu dengan kepala yang kemarau tanpa sehelaipun tumbuh rambut disana, memakai
kain di sebagian pundak dan membiarkan pundak satunya terbuka. Membiarkan kaki
kecil rapuh itu terbuka yang sewaktu-waktu bisa saja ada batu atau benda
lainnya menempel disana.
Kami
sampai pada ujung lorong bagian sayap kanan dari kuil ini, ku lihat ada
seseorang sedang bermeditasi di tengah ruangan dengan menghadap ke sisi terluar
dari kuil, pemandangan itu sangat membuatku terkesan, mata ku tak luput dari
setiap inci bangunan ini dan berakhir dengan pemandangan yang luar biasa
menakjubkan itu.
Di
seberang tebing kuil ini kulihat air terjun yang kemarin ku lewati dengan hutan
di atasnya yang penuh dengan teka teki, “ada apa disana ?”. kulihat seseorang
yang tadi sedang bermeditasi terbangun dan berdiri, menyapa pria itu dan aku,
dia memiliki prawakan tinggi, badan sedikit berisi, rambut terurai panjang
sedikit bergelombang dan menyembunyikan
cahaya putih yang akan menjadi penerang dalam kematian kelak, penutup kepala
yang terbuat dari lilitan kain bermotif corak kehidupan. Wajah yang tidak lagi
muda terlihat betapa banyaknya cahaya dalam helai rambut di bawah dagu itu.
Memakai
penutup tubuh dengan kain yang di tenun menggunakan tangan seorang wanita
dengan kelembutan serta kesabaran dan penuh cinta, penutup tubuh bagian bawah
merupakan kain putih dengan corak keberagaman yang membuktikan betapa
bijaksananya seseorang yang memakainya.
Sampai detik ini aku masih belum mengerti apa
arti semua ini. Ada apa dengan kuil ini, mengapa aku bisa berakhir disini dan
bertemu dengan orang-orang seperti mereka ?
Ab
hinc, yang kuketahui adalah nama lelaki tua bijaksana itu. Ab hinc merupakan
tetua di kuil ini, orang biasa memanggilnya dengan “bahid”. Bahid mengajak kami
berkeliling melihat seluk beluk kuil ini, di setiap lorong terdapat beberapa
tiang yang memiliki filosopi tertentu dengan guratan atau ukiran yang sulit ku
pahami.
Kuil
ini memiliki tujuh lorong, di setiap lorongnya adalah tempat berbagai agama
melakukan aktivitasnya. Di lorong ujung merupakan tempat berkumpulnya semua
keyakinan, mereka menyebutnya dengan “lorong eden”. Dimana semua orang
berkumpul tanpa memandang siapa dia, dari keluarga apa dia, apa agama dia, apa
kasta dia, apa warna kulit dia dan apa ras dia.
Aku
berasal dari keluarga yang terpandang sebagai anak perempuan, dari laki-laki
tua pemimpin agama dengan tuhan yang tak berwujud. Sedangkan pria yang selalu bersamaku
ini adalah seorang anak dari laki-laki tua yang memegang prinsip kuat dengan
ajaran tuhannya yang selalu digambarkan dengan wujud patung manusia.
Kisah
asmara yang selama ini aku jalani merupakn kisah terselubung di balik angin,
tiada sesiapun tau. Jawaban untuk akhir kisah ini pun belum terlihat jelas,
masih berupa awan kelabu yang enggan menunjukan mentari ataupun menurunkan
hujan.
Bahid
bercerita bahwa tempat ini merupakan tempat pelarian bagi mereka yang ragu akan
tujuan. Mereka yang segan untuk hidup tapi tidak ingin mengakhiri hidupnya.
Bahid bercerita bahwa banyak orang-orang yang berhasil menemukan jati diri
mereka disini, mereka yang berhasil selalu keluar dari tempat ini dan tidak
pernah kembali, karena tempat ini hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang
memiliki banyak pilihan hidup.
Tidak
jarang juga ada orang-orang yang memilih untuk menetap dan tidak ingin kembali.
Bahid selalu membuka tempat ini untuk siapapun, karna alam bawah sadar mereka
yang menuntun mereka kesini.
Aku
banyak belajar di tempat ini, aku belajar mengenal jati diriku melalui alam
bawah sadarku. Bahid membantu ku untuk menentukan pilihan ku dan aku di
hadapkan pada semua pilihan hidupku yang rumit, Bahid menuntunku berjalan dan
memperlihatkan akhir dari pilihanku, sampai aku dihadapkan dengan dua pilihan
besar yang sangat beresiko besar.
Tersadar
dari meditasi, tubuhku sudah basah oleh keringat dari ujung kepala sampai ujung
kaki. Bahid menyudahi pelajaran hari ini, aku pergi ke sungai untuk menenangkan
fikiran, kulihat air terjun itu seolah berbicara kepadaku, dia tau kalau aku
sedang tidak tidak besemangat untuk membasahi tubuhku, air terjun itu
menunjukan senyum indah yang berwarna dengan sumringah, seolah dia mengajakku
untuk bermain dengan percikan air yang mengenai wajahku, aku yakin bahwa alam
sedang coba menghiburku.
Sejenak
aku terbayang dengan semua resiko atas pilihan-pilihan itu, ada apa dengan
tempat ini, mengapa aku bisa melihat alam bawah sadarku secara jelas, mengapa
aku selalu merasa alam sedang ingin berkomunikasi denganku, mengapa semua hewan
buas di hutan itu hidup saling rukun, tempat apa ini dengan semua
keberagamannya.
==+==
Hari
ini Bahid memanggilku, dia ingin aku segera menentukan pilihan seperti apa yang
akan kupilih dalam hidupku. Kembali pada keluargaku, menjalani hidup seperti
biasa, bertemu pria lain dan memiliki masa tua yang bahagia, meskipun aku harus
mendapat hukuman, sepulang dari sini akan tersiksa selama sewindu karna harus
berpisah dari pria itu. Atau aku pilih pria itu, hidup bahagia dengan kehidupan
baru, memulai semua dari awal dan tersiksa di masa tua dengan umur seribu tahun,
tidak memiliki ingatan tentang: siapa aku, siapa keluargaku, dari mana asal ku
dan mengapa aku sendirian.
Aku
mencintai pria itu, sangat mencintainya, kita berjalan bersama untuk sampai
ketempat ini, kita berbeda tapi kita satu, semua orang tau kalau kisah kita
lebih romantis dari romeo & Juliet, banyak hal yang sudah kita lalui
bersama, susah senang, suka duka, dia yang menjagaku ketika ku sakit. Aku
menjalani kisah ini sudah separuh hidupku, ini pilihyan yang sangat berat,
sungguh membingungkan.
Yaaaaaaa
ini hanya kisah aku. Apa pria itu diberikan pilihan sama seperti ku? atau hanya
aku yang menjadikan dia bagian dari pilihanku ?. aku terbangun dan menghentikan
ini, aku butuh waktu untuk berfikir.
Aku
pergi ke air terjun itu lagi, aku yakin hanya alam yang mengerti aku dan alam
selalu memiliki cara untuk membuatku bersemangat lagi. Yap, benar saja, alam
selalu punya cara menyampaikan maksudnya. Ku lihat sekawanan beruang sedang
mencari ikan di sungai itu, aku ragu untuk mendekati, bisa saja sewaktu-waktu
beruang itu menerkamku dan tamat riwayatku.
Kehadiranku
tidak mengganggu kegiatan mereka, mereka melihat ke arahku dengan menunjukan
taring besar itu, yang kutau maksudnya adalah dia tersenyum kepadaku. Ada satu
beruang yang mencuri perhatianku, tubuhnya paling besar dari yang lainnya, bulu
hitam pekat di seluruh tubuhnya, dengan garis bulu kecoklatan di sekitar dada
membentuk satu garis tak putus
melingkari lehernya, air yang membasahinya menunjukan semua lekuk tubuh kekar
itu, yang ku yakin dia adalah pemimpin kawanan disitu.
Dia melihat ke arahku dengan tatapan mata
penuh makna, aku kurang yakin apa arti tatapan mata itu. dia menangkap ikan dan
melemparnya ke kawanan yang lain. Dia membuka mulutnya perlahan seperti hendak
mengeram menunjukan taring besar yang terpantul cahaya, sketika raut wajahnya
berubah, beruang itu mendekatiku dengan perlahan berjalan dengan kedua kakinya dengan
tegap layalnya manusia. Tanpa sadar aku menutup mata dan kudengarkan dengan perlahan suara langkah
beruang itu dalam air, kudengar bisikan seperti angin lewat “keluargamu
membutuhkanmu”suara itu nan lembut dan bijaksana, kuat, mempesona sehingga
badanku gemetar mendengar kalimat itu, seperti langsung terdengar oleh hati.
Saatku buka mata, beruang itu sudah berlalu pergi menjauhiku.
Hari
ini aku sudah siap untuk menentukan pilihan hidupku, aku datang menamui Bahid
untuk memberi kabar bahwa aku siap dengan segara hal buruk dari pilihanku.
“aku
pilih keluargaku”, dengan nafas yang masih tersengal akibat mengejar Bahid yang
jauh di depanku. Bahid berpaling tersenyum menoleh kearahku “pilihan yang tepat
cah ayu, kamu sudah menemukan jati dirimu yang sesungguhnya”
“aku
siap dengan segala hal buruk yang akan terjadi, aku akan pulang dan menemui
keluargaku, mereka membutuhkanku”. Bahid tersenyum lebar lalu pergi
meninggalkanku.
Ketika
aku sedang berkemas dalam kamar, ada seseorang mengetuk pintuku “ hey kamu yang
di dalam, Bahid memanggilmu di lorong sayap kanan”. Aku keluar kamar untuk
menemuinya, sepanjang perjalanan dari kamar menuju lorong sayap kanan, ku lihat
seorang wanita sedang menyusui anaknya di dalam kamar, mengenakan pakaian putih
dengan model seperti Negara piramida, duduk disampingnya seorang lelaki tua
dengan pakaian serba kuning menutupi sebagian dadanya menyerupai biksu kuil
yang pertama ku jumpai disini.
“
kamu pasti bertanya-tanya dengan apa yang kamu liat tadi, mereka merupakan
suami-istri sah perkawinan silang keyakinan, disini kami percaya pencipta itu
ada, kami percaya dengan apa yang ditulis manusia dalam kitab, kami yakin bahwa
pencipta selalu bersama kami, disini kami hidup dengan pilihan hidup kami, baik
buruknya kami percaya akan adanya surga neraka. Mereka memilih untuk tidak
memilih pilihan hidup mereka dan tinggal disini”
“Lalu
apa pilihan ku benar ?”
“Pilihan
kalian benar, kalian akan menjalani hidup kalian dengan bahagia, kalian kembali
kepada keluarga yang sangat mencintai kalian, denga tulus tanpa pamrih dan
mereka menerima kembali kehadiran kalian dengan apapun kindisinya”
“Kalian
?”
“ya,
kalian, pria itu sudah lebih dulu menentukan pilihannya dan pergi meninggalkan
tempat ini dua hari yang lalu, dia tidak ingin bertemu dengan mu karena dia
takut kamu akan kecewa dan sulit melepaskannya”
“Lalu,
apa maksudmu kalau kami akan hidup bahagia ? bukankan takdir ingin menyiksa
kita terlebih dahulu ?”
“itu
karena dia sempat bimbang memilih antara kamu atau keluarganya, dia pernah
bilang bahwa apapun yang terjadi, dia akan akan selalu mendampingimu, dia akan
memilihmu dan akan meninggalkan keluarganya. Setelah pertimbangan banyak hal
akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan memilih keluarganya. Kalian tidak akan
tersiksa karena kalian memilih hal yang sama demi kebaikan bersama, pulanglah,
ayahmu merindukan mu, ibumu menantikanmu”
“apa
setelah ini aku bisa datang kemari untuk berkunjung ?”
“aku
tidak yakin, semua orang disini tidak ada yang tau caranya kembali jika sudah
keluar dari tempat ini”
Dini
hari aku sudah keluar dari tempat ini, tidak melewati jalan yang sama, seperti
saat datang. Aku berjalan mengikuti aliran sungai, masih kulihat kuil itu
berdiri dengan samar, patung siwa yang terbias cahaya bulan seolah tersenyum
padaku mengatakan “selamat tinggal”
Hanya
hening yang ku dengar sepanjang perjalanan, sunyi, gelap sangat gelap, kulihat
portal di ujung jalan yang akan membawaku kembali kepada dunia yang
sesungguhnya. Alroji ku menunjukan waktu yang sama tidak berdetak, padahal aku
sudah berjalan sangat lama. Kulihat
setitik cahaya yang menunjukan bahwa hutan ini akan segera berakhir, semakin ku
dekati cahaya itu semakin aku percaya diri bahwa inilah hidup yang aku pilih.
Sesampainya
di titik cahaya, aku berada di jalan setapak penghubung desa dengan hutan, aku
masih diam merenung memikirkan apa yang terjadi sampai matahari benar-benar
menyinari jalanku. Ku lihat alrojiku mulai berdetak, menunjukan waktu tepat
untuk aku berangkat sekolah, tapi aku tidak pergi ke sekolah, aku pulang
kerumah, karena ku yakin ibuku sedang menyiapkan sarapan untuk ayahku sebelum
pergi bekerja.
Kulihat
raut wajah mereka yang bahagia, tersenyum dengan penuh sejuta pesona yang
membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama saat aku hadir di dunia ini. Ku
masuk kedalam kamarku dan ku liat tubuhku masih terkulai lemas di kasur,
matahari yang menembus masuk melalui celah jendela menarikku masuk dalam tubuh
itu dan aku terbangun untuk memulai hidup yang lebih indah.
Sebelum
pergi kesekolah, aku sempatkan mencium pipi kedua orangtuaku. Berpamitan dan
menampilkan senyum terlebarku, kebali pada kegiatan rutin setiap hari aku
berangkat sekolah dengan berjalan kaki melewati pasar induk yang selalu ramai
di datangi banyak orang, melewati taman kota yang setiap malam ramai dengan
muda-mudi dan ribuan bintang buatan yang menyinari taman itu. melewati jalan
kosong yang tadi pagi ku lewati, jalan penghubung desa dengan hutan.
Di
depan gerbang sekolah aku lihat sosok pria itu berdiri seperti sedang menunggu
seseorang, entah siapa, aku pun tidak berharap dia sedang menungguku. Dari jauh
ku perhatikan raut wajah dia sedang bahagia, datang seorang perempuan berjalan
setengah berlari menghapiri pria itu. mereka tertawa bersama, berpegangan
tangan dan masuk ke halaman sekolah bersa. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi
kepadaku, tapi aku sama sekali tidak sedih, aku merasa senang melihat itu
semua.
Ketika
aku sedang berdiam diri, ada sosok pria lain yang menggenggam tanganku dari
belakang dan menarikku untuk berjalan bersama, genggaman dia terasa sangat
tulus dan dia membawaku pergi masuk ke dalam sekolah itu.